NLP dalam Dunia Pendidikan

Menjadi Guru di Sekolah

Menjadi guru di sekolah bukan hanya tempat untuk mengajar seperti menyampaikan informasi, membina murid dan memberikan penilaian. Sekolah juga tempat belajar yang tidak hanya dilakukan oleh murid. Setiap elemen yang terlibat di sekolah selalu mengalami proses belajar.

Di sekolah keberhasilan murid dalam proses belajar tidak hanya ditentukan oleh nilai yang di raih di akhir semester tetapi juga tentang bagaimana proses dapat di pahami oleh murid. Murid adalah produk dari sebuah sistem di sekolah. Apabila sistemnya baik yaitu berupa kurikulum dan gurunya maka produknya akan sesuai dengan yang di harapkan.

Produk dalam dunia pendidikan meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Inilah yang harus di seimbangkan oleh sebuah sistem sekolah. Barometer keberhasilan anak dalam belajar di tentukan juga oleh banyak faktor selain disekolah. Seperti gaya belajar, latar belakang keluarga murid, kepercayaan murid dan support dari orang tua. Faktor ekternal inilah yang memperngaruhi keberhasilan belajar anak.

Di sekolah ujung tombak keberhasilan belajar anak adalah peran guru, hampir 30% pengaruh guru sangat efektif. Guru dikelas berperan dalam pemberian informasi, manajemen kelas, manajemen perilaku anak, iklim kelas, harapan belajar, komunikasi kelas, meningkatkan mood belajar dan sosial manajemen.

Selain membuat program pembelajaran, mempelajari kurikulum, membuat target jangka panjang maupun jangka pendek dan mengimplementasikan program yang dibuat dikelas. Guru juga terkadang harus dihadapkan dengan aspek sosial antar rekan kerja. Maka dari itu perlu ada alat/sistem agar guru dapat melakukan state manajement dalam kesehariannya. Hal ini perlu dilakukan agar guru dapat terjaga motivasinya untuk mengajar.

Dalam kaitannya mengenai efektifitas pengelolaan kelas, motivasi personal guru, memotivasi murid penulis mempelajari dan NLP (Neuro Linguistic Program) sangat memberikan kontribusi untuk meningkatkan kualitas komunikasi dikelas dengan murid maupun komunikasi diri, selain itu NLP juga bisa di internalisasikan dalam proses belajar mengajar.

Menjadi guru Ber-NLP

Sebelum mempelajari NLP sebagai praktisi yangmengaplikasikannya dengan dunia pendidikan terlebih dahulu saya mengajukan pertanyaan pada diri saya sendiri mengenai bagaimana ini bisa berhasil untuk kelas yang saya ajar. Tulisan ini adalah jurnal dari bagaimana saya menggunakan NLP di kelas yang saya ajar, btw kelas yang saya ajar saat ini adalah pelajaran olahraga dan Bahasa Inggris.

Saya menyadari bahwa untuk mengimplementasikan NLP dalam jangka panjang yang artinya untuk wali kelas yang setiap detik haris memperhatikan aktifitas murid untuk tingkat dasar belum terbukti, dari beberapa buku yang saya pelajari teknik maupun model yang ditawarkan NLP hanya disekitar pengelolaan perilaku untuk jam-jam tertentu, tetapi sekali lagi ini buken tentang keberhasilan buat saya tetapi bagaiman menciptakan strategi yng bisa di gunakan di kelas.

Nah kembali ke pertanyaan yang membuat saya berpikir bagaimana menggunnakan NLP di kelas adalah:

  • Bagaimana diri saya dengan NLP dan pengaruhnya terhadap peserta didik?
  • Apa nilai dari NLP yang bisa saya impelementasikan untuk saya sendiri?
  • Bagaimana perasaan saya terhadap kondisi kelas yang saya ajar saat ini?
  • Apakah ada area atau aspek yang ingin saya rubah dari kelas yang saya ajar?
  • Apa yang telah saya lakukan terhadap perubahan yang saya inginkan?
  • Bagaimana saya melakukannya?
  • Siapa guru yang saya bisa copy/modelling ketika mengajar di kelas sehingga membuat saya termotivasi dalam mengajar karena caranya yang efektif?
  • Pencapaian-pencapaian seperti apa yang telah saya lakukan didalam kelas terhadap murid khususnya?

Pertanyaan di atas saya munculkan ketika memulai mempelajari NLP, apa yang bisa saya kontribusikan terhadap dunia pendidikan. Untuk rekan guru yang mau menginternalisasikan NLP sebaiknya munculkan pertanyaan dalam diri bagaimana NLP bisa menjadi bagian dari aktivitas kita.

 

NLP di kelas

Saat penulis berpikir bagaimana mengaplikasikan insight NLP terhadap dunia pendidikan. Penulis coba mengaplikasikannya dalam skala mikro yaitu dalam kelas, tujuan utamanya adalah merubah pola bahasa dan mengubah cara pandang siswa terhadap proses interaksi kelas. Hal lainnnya adalah membuat mereka menyadari bahwa setiap perilaku bisa diberdayakan sesuai konteks dan konten.

Percobaan pertama saya adalah membangkitkan rasa memiliki dalam proses belajar. Siswa diminta untuk memilih perilaku apa yang ingin mereka lakukan di kelas. Saat memulai proses saya ajak mereka berdiskusi tentang perbedaan murid pintar dan murid bodoh, murid baik dan murid nakal dan perilaku lain, dalam NLP kita mengenalnya chunking, setelah mereka mendefinisikan kedua perilaku tersebut. Saya lemparkan pertanyaan kedua tentang hidup adalah pilihan, lalu mereka menjawab benar dan saya bertanya lagi apakah perilaku murid baik bisa di pilih dan mereka menjawab setuju. Lalu saya lemparkan kalimat perintah “nah” sekarang saya minta kamu memilih untuk menjadi murid baik”! dan saya minta mereka kembali untuk mengulang definisi tentang pilihan yang mereka buat.

Teknik di atas penulis pikir cukup efektif agar proses belajar lebih konsentrasi dan kelas manajemen baika. Dari buku yang saya baca tentang behavioural management, mengapa perilaku dikelas perlu  di lakukan diantaranya adalah:

  1. Untuk menciptakan iklim belajar yang berkembang
  2. Untuk melindungi dan menghargai proses belajar.
  3. Untuk membuat keyakinan pada siswa bahwa mereka bisa sukses
  4. Untuk mengerjakan siswa bagaimana bersikan secara sosial dan pilihan yang bisa diterima saat belajar.

Saat memahami konsep manajemen perilaku tujuan utama selain mempola aktivitas dikelas. Penulis juga memberikan pendekatan-pendekatan positif saat menggunakan NLP dalam segala mikro, yaitu.

  1. Mengajarkan siswa bagaimana berinterkasi secara sosial dikelas dan berperilaku saat proses belajar dan disaat bersamaan guru menjaga harga diri dan citra diri siswa.
  2. Kata kunci pendekatan positif
  • Kata-kata positif atau pilihan kata positif
  • Secara aktif menciptakan suasana bangga dan penghargaan
  • Mengajarkan siswa keterampilan sosial untuk sukses
  • Mengajarkan siswa menuju sukses daripada mencari kesalahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *